3 Hal Perlu Dilakukan Peserta Touring Sepeda Untuk Hindari Resiko Fatal

3 Hal Perlu Dilakukan Peserta Touring Sepeda Untuk Hindari Resiko Fatal

Olahraga bersepeda tentu memiliki banyak penggemar. Salah satunya dibuktikan dengan banyaknya peserta yang turut menyemarakkan event  " Brompton 100 kilo", di Solo, Sabtu (31/3/2018).

" Brompton 100 kilo" merupakan sebuah ajang yang mempertemukan para pecinta sepeda lipat merek Brompton, untuk mengampanyekan olahraga sepeda lewat aksi touring sejauh 100 kilometer.

Sayangnya, acara yang diikuti hampir 500 peserta ini juga menyisakan kabar duka.

Ivan Asmara, salah satu peserta yang berasal dari Jakarta, tutup usia saat sedang mengikuti event ini.

Pria berusia 48 tahun tersebut dikabarkan terkena serangan jantung mendadak saat berada di tengah-tengah acara ini.

"Yah, kami sebagai panitia juga sudah menyiapkan yang terbaik untuk peserta."

"Kami juga sudah menyiapkan mobil kesehatan dan juga fasilitas untuk cek kesehatan gratis bagi para peserta."

"Tapi, ini namanya musibah. Di luar prediksi kami," ucap Baron Martanegara, selaku ketua panitia.

Terlepas dari kabar duka ini, sesungguhnya ada beberapa hal yang harus disiapkan oleh para peserta touring sepeda, demi mengurangi berbagai risiko.

Jarak tempuh untuk melakukan touring sepeda biasanya lebih dari 60 kilometer. Tantangan ini menuntut kekuatan fisik yang baik dari para peserta.

Baron Martanegara menyarankan kepada para pecinta olahraga sepeda agar melakukan latihan dan istirahat yang cukup sebelum melakukan tour sepeda.

Menurut dia, dengan latihan dan istirahat yang cukup, serta tidak terlalu memaksakan diri dapat mengurangi risiko datangnya cedera, atau hal-hal lain yang bersifat fatal.

Tiga poin persiapan

Laman Hello Sehat juga menguraikan hal yang serupa. Dituliskan, ada tiga hal yang harus dilakukan oleh para pecinta olahraga sepeda sebelum melakukan touring. 

Tiga hal tersebut meliputi latihan, mengisi cairan tubuh, dan mengonsumsi makanan sehat.

Latihan bisa mencegah kita mengalami cedera saat melakukan touring.

Untuk bersepeda jarak jauh, mulailah melatih diri dari jarak yang pendek terlebih dahulu, kemudian tambah jarak hingga kita terbiasa bersepeda dengan jarak yang jauh.

Sementara itu, mengisi cairan tubuh sangat berguna untuk menghidrasi tubuh.

Tubuh yang terhidrasi penting untuk membantu kita melawan rasa lelah dan menjaga energi agar tetap optimal.

Oleh karena itu, sebelum melakukan touring kita juga harus memastikan kecukupan cairan dalam tubuh.

Demi menghindari dehidrasi, kita harus meminum banyak air sebelum dan selama perjalanan. Tentu pula, menghindari minuman berkafein, bersoda, dan beralkohol.

Mengonsumsi makanan sehat sebelum mengikuti touring juga dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Saat berolahraga, makanan akan cepat dicerna. Oleh karena itu, jangan lupa untuk tetap mengisi asupan makanan selama touring.

Ahli gizi olahraga, Nancy Clark menyarankan kita untuk tetap mengonsumsi karbohidrat.

Makan makanan berkarbohidrat sebelum dan saat berolahraga akan memberi otot asupan bahan bakar sehingga kita tidak mudah lelah.

Mengenal Gejala Bipolar dan Bedanya dengan Skizofrenia

Mengenal Gejala Bipolar dan Bedanya dengan Skizofrenia

Siapa tak kenal Van Gogh, Kurt Cobain, Frank Sinatra, atau Demi Lovato? Ya, mereka adalah deretan seniman sekaligus selebriti dunia.

Namun, tahukah Anda, mereka punya satu kesamaan lain? Mereka sama-sama mengidap bipolar disorder.

Dilansir dari Mayo Clinic, gangguan bipolar merupakan kondisi kesehatan mental seseorang yang menyebabkan perubahan suasana hati ekstrem.

Perubahan suasana hati ini mencakup emosi tertinggi (sangat senang yang disebut fase manik atau hipomanik untuk yang lebih ringan) dan terendah (sangat murung atau depresi).

Sepintas mungkin gejala dari bipolar mudah diamati, terutama jika mengikuti siklus tersebut. Tapi, mendiagnosis seseorang mengidap bipolar ternyata tak mudah.

Gejala kondisi ini bisa bertolak belakang dengan urutan manik-depresi yang diharapkan.

Apalagi, kejadian manik atau hipomanik bisa hampir tak terdeteksi. Selain itu, pada fase depresi sering kali dianggap sebagai penyakit lain.

Penyalahgunaan narkoba pun bisa jadi alasan sulitnya diagnosis kondisi mental ini.

Menurut WebMD, 50 persen orang dengan gangguan bipolar harus mendatangi tiga tenaga profesional hingga akhirnya mendapat diagnosis yang tepat. Artinya, perawatan gangguan bipolar bisa jadi terlambat.

Padahal, gangguan bipolar adalah kondisi seumur hidup dan hampir tiap episodenya tak bisa diprediksi. Dengan kata lain, hal ini memungkinkan seseorang kesulitan beraktivitas karena perubahan suasana hati.

Ini menjadi sebuah keprihatinan karena keterlambatan perawatan bisa berakibat buruk. Untuk itu, mengenal gejala bipolar perlu dilakukan.

Gejala Bipolar

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ada dua fase yang dialami oleh orang dengan gangguan bipolar, yaitu manik (dan hipomanik) dan depresi.

Namun, sebagai catatan, episode manik dan hipomanik sering disebut dua periode berbeda. Meski begitu, keduanya memiliki gejala yang sama.

Beberapa gejala manik dan hipomanik adalah:
  • Detak jantung tidak normal, perasaan gelisah atau aneh
  • Merasa punya energi berlebih hingga memulai banyak aktivitas
  • Rasa percaya diri yang berlebihan dan adanya euforia
  • Nyaris tak membutuhkan tidur
  • Punya khayalan yang tak biasa
  • Punya banyak pemikiran atau ide-ide
  • Mudah teralihkan
  • Seringnya, pada fase ini membuat banyak keputusan buruk
  • Bicara cepat dan banyak topik
  • Mudah tersinggung

Selain episode manik, ada pula episode depresi yang dialami oleh orang dengan gangguan bipolar. Beberapa gejalanya adalah:
  • Suasana hati yang buruk
  • Mudah merasa tertekan, sedih, hampa, dan putus asa
  • Kehilangan minat atau kesenangan pada sesuatu atau banyak hal
  • Penurunan berat badan secara signifikan
  • Makan terlalu banyak atau terlalu sedikit
  • Tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit
  • Gelisah tapi tak bisa melakukan banyak hal
  • Mudah lelah dan kehilangan energi sehingga malas beraktivitas
  • Merasa tidak berharga atau rasa bersalah berlebihan
  • Sulit berkonsentrasi atau berpikir tenang
  • Beberapa kasus, orang merencanakan bunuh diri
  • Sering lupa terhadap banyak hal
  • Jenis Gangguan Bipolar

Setelah mengetahui gejala-gejalanya, kita juga perlu mengenal jenis bipolar yang mungkin terjadi.

1. Gangguan Bipolar I

Kondisi ini berarti seseorang setidaknya memiliki satu periode mania selama 7 hari atau hingga perlu dirawat di rumah sakit. Fase ini biasanya didahului atau diikuti episode hipomania atau depresi berat.

Saat mengalami episode depresi, penderita gangguan bipolar I mungkin mengalaminya selama 2 minggu. Kadang kala episode depresi ini juga bercampur dengan episode mania atau hipomania.

2. Gangguan Bipolar II

Kondisi ini berarti seseorang setidaknya mengalami satu episode depresi utama. Biasanya, episode tersebut diikuti dengan hipomania.

Namun, perlu diketahui, jika menderita gangguan bipolar jenis ini, maka ia belum pernah mengalami episode mania (senang atau emosi berlebihan).

3. Gangguan Cyclothymic

Kondisi cyclohymic berarti seseorang mengalami banyak periode hipomania dan depresi. Kondisi ini setidaknya dialami selama 2 tahun untuk dewasa dan 1 tahun pada anak-anak atau remaja.

Kondisi ini sering mengecoh para profesional. Pasalnya, gejalan sering kali tidak memenuhi persyaratan diagnosis untuk episode hipomania atau depresi.

4. Gangguan Bipolar Lain

Gangguan bipolar lain didefinisikan sebagai gangguan yang tidak termasuk pada 3 kategori di atas. Biasanya gangguan bipolar jenis ini terkait dengan penyebab seperti konsumsi narkoba atau alkohol tertentu.

Penyebab lainnya seperti kondisi medis tertentu. Misalnya penyakit chusing (akibat paparan tinggi hormon kortisol), multiple sclerosis, atau stroke.

Semua jenis gangguan bipolar ini bisa terjadi pada semua usia. Tapi yang paling umum, diagnosis bipolar terjadi pada usia remaja atau awal 20-an.

Penyebab Bipolar

Meski mengetahui gejala dan jenis dari gangguan bipolar, sayangnya, penyebab kondisi ini tidak diketahui secara pasti. Para ilmuwan yang mempelajari kondisi ini juga setuju bahwa tak ada penyebab tunggal dari gangguan bipolar.

Dengan kata lain, ada beberapa faktor yang mungkin terlibat dalam kondisi ini. Dikutip dari National Institute of Mental Health (NIMH) beberapa faktor risiko berikut merupakan penyebab gangguan bipolar.

1. Struktur dan fungsi otak

Beberapa penelitian menunjukkan bagaimana otak dari penderita gangguan bipolar berbeda dengan struktur otak normal atau gangguan mental lain.

Para ahli percaya gangguan bipolar disebabkan oleh gangguan pada sirkuit otak tertentu. Tak hanya itu, fungsi zat kimia otak yang disebut neurotransmitter juga berpengaruh pada kondisi ini.

2. Genetik

Selain terkait pada struktur dan fungsi otak, beberapa penelitian juga menemukan bahwa gangguan bipolar terkait dengan genetik. Para peneliti menemukan bahwa orang dengan gen tertentu lebih mungkin mengembangkan gangguan bipolar.

Meski begitu, studi tentang kembar identik dan bipolar menunjukkan hal berbeda. Jika seseorang yang kembar mengalami gangguan bipolar, belum tentu saudaranya mengalami hal yang sama, meski berpeluang besar.

Padahal, kembar identik berbagi semua gen yang sama.

3. Riwayat keluarga

Penelitian tentang kaitan gen dan bipolar juga menunjukkan adanya riwayat keluarga yang bisa jadi faktor risiko.

Penelitian yang dilakukan di John Hopkins University menemukan, gangguan bipolar II terjadi paling umum pada orang dengan riwayat keluarganya juga mengembangkan bipolar I dan II.

4. Lingkungan dan Gaya Hidup

Penelitian lain menunjukkan bahwa kondisi ini juga terkait dengan lingkungan dan gaya hidup.

Para peneliti menemukan anak-anak dengan orang tua bipolar sering dikelilingi oleh stres lingkungan yang signifikan. Ini mungkin terkait perubahan suasana hati yang terjadi pada orang tua mereka.

Meski tidak selalu mengembangkan gangguan bipolar, anak-anak tersebut bisa mengembangkan gangguan mental lain. Misalnya, ADHD, depresi berat, skizofrenia, atau penyalahgunaan narkoba.

Diagnosis

Namun, seperti yang telah disebutkan di atas, diagnosis bipolar bisa jadi sangat sulit. Untuk menentukan gangguan bipolar pada seseoang, biasanya dokter akan melakukan serangkaian tes.

Apa saja tes yang dilakukan oleh dokter untuk mendeteksi gangguan bipolar?

Pertama, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik. Sejumlah tes fisik dan laboratorium dilakukan untuk mengidentifikasi masalah medis yang menyebabkan gejala Anda.

Kedua, penilaian psikiatri. Dokter biasanya akan menunjuk psikiater yang akan berbicara tentang pikiran, perasaan, hingga pola perilaku Anda.

Biasanya, pada penilaian psikiatri, Anda akan diminta untuk mengisi kuesioner psikologi dan penilaian diri. Selain itu, orang-orang terdekat Anda seperti keluarga dan sahabat juga akan dimintai informasi tentang Anda.

Ketiga, diagram suasana hati. Dalam melakukan sejumlah tes, Anda mungkin diminta untuk menulis catatan harian tentang suasana hati, pola tidur, atau faktor lain yang membantu diagnosis.

Keempat, Psikiater akan membandingkan gejala Anda dengan kriteria gangguan bipolar yang sudah ada.

Sebagai catatan, diagnosis gangguan bipolar pada anak-anak dan remaja berbeda dari orang dewasa. Ini karena gejala pada anak-anak dan remaja sering memiliki pola berbeda dan mungkin tidak cocok dengan kriteria gangguan bipolar umumnya.

Alternatif Pengobatan

Setelah mendapat diagnosis yang tepat terkait gangguan bipolar, maka selanjutnya akan dilakukan perawatan. Saat ini, jenis perawatan bipolar di dunia sangat banyak.

Beberapa perawatan melibatkan kombinasi terapi dan obat-obatan. Lalu apa saja pilihan perawatan yang bisa dilakukan oleh orang dengan gangguan bipolar?

Dirangkum dari Medical News Today, ada beberapa perawatan yang bisa dilakukan oleh penderita gangguan bipolar.

1. Perawatan Obat

Dokter akan meresepkan beberapa obat untuk mengatasi depresi dan manik atau hipomanik. Obat-obatan tersebut biasanya diresepkan dalam jangka panjang, setidaknya 6 bulan.

Meski begitu, pasien perlu mengikuti setiap instruksi dokter tentang tata cara meminum obat.

2. Rawat Inap

Untuk beberapa kasus, dokter biasanya akan merekomendasikan rawat inap. Hal ini dilakukan terutama jika ada perilaku berbahaya pada pasien, misalnya percobaan bunuh diri, atau berkhayal terlalu jauh.

Mendapatkan perawatan psikiatri dari rumah sakit bisa membantu pasien untuk tetap tenang dan menstabilkan suasana hati.

3. Psikoterapi

Konseling psikologis atau yang kerap disebut psikoterapi juga biasanya dilakukan untuk mengontrol gejala gangguan bipolar. Tak hanya konseling, biasanya psikoterapi juga mencakup pendidikan dan dukungan dari orang-orang terdekat.

4. Terapi Perilaku Kognitif (CBT)

Terapi ini berfokus pada individu dan keluarga. Hal ini bertujuan untuk mencegah kambuhnya gejala dari gangguan bipolar.

Terapi ritme interpersonal dan sosial yang dikombinasikan denganCBT juga bisa membantu meredakan gejala depresi.

5. Terapi Elektroconvulsive (ECT)

Terapi ini menggunakan anestesi dan sedikit kejutan listrik. Sebenarnya terapi ini baru akan digunakan ketika bentuk terapi lain tidak efektif untuk perawatan.

6. Obat Tidur

Orang dengan gangguan bipolar biasanya mengalami sulit tidur. Untuk itu, obat tidur mungkin membantu meredakan gejala tersebut.

7. Perubahan Gaya Hidup

Memiliki gaya hidup sehat bisa membantu mengontrol gejala dari gangguan bipolar. Rutinitas seperti diet sehat, tidur teratur dan cukup, serta berolahraga bisa menjaga stabilitas suasana hati seseorang.

Beda Bipolar dengan Skizofrenia

Gangguan bipolar memiliki beberapa gejala yang hampir mirip dengan skizofrenia. Kedua kondisi mental ini sama-sama mengalami semacam jeda dari kenyataan yaitu halusinasi dan delusi.

Hal ini membuat keduanya sering kali sulit dibedakan. Tapi apa perbedaan keduanya?

"Kalau skizofrenia itu gangguan ola pikir, sedangkan bipolar hanya gangguan mood," ungkap dr Engelberta Pardamean Sp.KJ dilansir dari Nova.grid.id, Selasa (07/03/2017).

Selain itu, merujuk pada tulisan Eugene Rubin M.D., Ph.D dalam laman Psychology Today, skizofrenia tidak memiliki episode manik dan depresi. Para penderita skizofrenia hanya mengalami halusinasi dan delusi saja.

Ditambah lagi, biasanya, skizofrenia tidak mengalami fase normal. Gangguan pikiran pada skizofrenia hadir sepanjang waktu.

Hal inilah yang menyebabkan mereka kesulitan untuk beraktivitas seperti belajar atau sekolah.

Ini pemandangan yang berbeda dengan gangguan bipolar. Pada penderita bipolar, di antara episode manik dan depresi masih ada waktu ketika suasana hati mereka normal.

Biasanya, penderita bipolar masih bisa melakukan beberapa aktivitas seperti sekolah atau belajar.

Kata Dokter Soal Bolehkah Berenang Saat Menstruasi

Kata Dokter Soal Bolehkah Berenang Saat Menstruasi

Menstruasi adalah siklus bulanan yang dialami oleh setiap perempuan. Sayangnya, kondisi ini sering menyebabkan para perempuanmerasa terhalang untuk berolahraga, terutama renang.

Seolah ada larangan tak tertulis bagi perempuan menstruasi untuk berenang.

Namun, benarkah perempuan yang sedang haid atau mestruasi tak boleh berenang?

Dokter spesialis kandungan dan kebidanan, Benny Johan Marpaung menyebut, dalam dunia kedokteran tidak ada larangan berenang selama tamu bulanan tersebut datang.

Menurutnya, hal yang membuat masyarakat takut berenang mungkin terkait aspek kebersihan. Kekhawatiran masyarakat disebut wajar karena memang kolam renang silih berganti dimasuki banyak orang.

Ini tentu rentan menjadi media penyebaran bakteri. Alasan tersebut, kata Benny, bisa diatasi dengan mengetahui hal berikut sebelum terjun ke kolam renang.

Jangan Pakai Pembalut

Misalnya, perempuan haid sebaiknya jangan memakai pembalut ketika berenang. Mungkin hal ini terbaca kurang menyenangkan, sedang datang bulan tapi tak mengenakan pembalut. 

Namun sebenarnya ada alasan mengapa hal itu dianjurkan Benny. Bagi Anda yang pernah mengenakan pembalut saat berenang, tentu akan merasakan hal yang tak nyaman untuk bergerak akibat pembalut yang terkena air.

Selain rasa tidak nyaman saat bergerak, pembalut akan membesar dan lembap.

“Pembalut cenderung membuat vagina jadi lembap,” ujarnya pada Kamis (29/3/2018).

Pembalut yang lembap tersebut menjadi tempat kesukaan bakteri atau mikroorganisme. Bakteri dari luar, dalam hal ini dari kolam renang, akan berkoloni dengan bakteri yang ada di vagina.  

Apalagi, hal ini didukung dengan derajat keasaman darah menstruasi yang basa dan pH air kolam renang. Alhasil, itu akan memicu infeksi vagina.

Pakai Tampon

Dibandingkan pembalut, Benny lebih menganjurkan pemakaian tampon, menstrual cup, sea sponge tampons, atau periode panties ketika berenang.

Namun, tampon tetap harus sering diganti jika dirasa darah menstruasi yang keluar sudah penuh. Pasalnya jika tidak, darah menstruasi bisa berceceran di kolam renang.

“ Darah yang bocor ke air jadi sumber pertumbuhan bakteri. Kolam renang menjadi tercemar,” ujarnya.

Akibatnya, bakteri menyebar. Selain membuat risih, itu berbahaya bagi pengunjung dan perempuan.

Terkesan Berhenti

Sayangnya, tetap ada perempuan yang ngotot enggan memakai tampon atau pembalut. Ini lantaran mereka merasa darah menstruasi tidak akan keluar saat di dalam kolam renang.

Benny menambahkan, saat berenang kadangkala darah menstruasi memang terkesan berhenti mengalir.  Sebab, ada tekanan yang timbul di dalam air selama berenang. Tekanan ini membuat darah menstruasi jadi lebih lambat keluar atau terkesan tidak merembes.

Meski diperbolehkan berenang saat menstruasi, tapi Benny juga menyebut ada waktu terbaik untuk berenang. Menurutnya, hari-hari terakhir menstruasi merupakan saat yang tepat bagi perempuan yang datang bulan untuk berenang.

Saat itu, menstruasi hanya menyisakan bercak-bercak darah sehingga perempuan tidak perlu takut darahnya tembus ke air dan menjadi sarana penularan bakteri, kata Benny.